Farel sering dipanggil ballon gas oleh teman – temannya. Itu bukan karena badannya yang gemuk, tetapi karena dia sering buang gas alias kentut. Entah karena penyakit atau karena apa, Farel sering buang gas sekitar sepuluh menit sekali. Bila ditahan, perutnya akan terasa sakit. “Bau kentut..!” kata ayah “Iya.. bau kentut,” Tambah ibu, “Farel.. kamu kentutkan?” “bukan aku!”Farel membela, “memang aku sering kentut, tapi kali ini bukan aku yang kentut.” “mengaku saja kak..! kami juga sudah tahu.” Sahut Fika adiknya. Tiap kali tercium bau gas turi –nama lain dari kentut-, Farel selalu dituduh. Padahal belum tentu dia yang buang gas. Saat orang – orang bersenang senang saat berkumpul, Farel harus menyendiri. Dia tak mau membuat orang lain tidak nyaman karena kebiasaannya yang sering buang gas. Selain itu Farel juga ingin buang gas dengan bebas, tanpa harus ada masalah dengan orang lain. Farel tak bisa menikmati saat- saat berkumpul bersama keluarga atau orang – orang dekatnya. Dia merasa sesepian. Jarang sekali ada orang yang mau dekat – dekat dengan Farel, kecuali ia baru mengalami gangguan pada hidungnya. Untung masih ada gitar usangnya yang mau menemani Farel disaat – saat seperti itu. Mungkin ialah teman sejati Farel-yang selama ini sering diacuhkannya. Farel sangat benci dengan kebiasaannya buang gas.
* * *
Pada suatu hari seusai Farel berlatih sepak bola dengan Timnya, perut Farel merasa nyeri. Farel pikir itu hanya sakit perut biasa. Sehingga Farel tidak terlalu memikirkannya. Farel tetap giat berlatih sepak bola secara rutin dengan timnya. Sudah satu tahun Farel bergabung dengan salah satu club sepakbola di daerahnya. Sebentar lagi Tim Farel akan mengikuti tournament sepak bola antar club sekabupaten. Tournament tersebut baru pertama kali bagi Farel. Oleh karena itu Farel berlatih dengan keras untuk mengikuti tournament –yang diadakan setahun sekali –tersebut. Sampai beberapa hari kemudian, rasa sakit itu tak kunjung hilang, dan malah bertambah parah. Karena takut, Farel membicarakan sakit diperutnya itu dengan orang tuanya. Orang tua Farel tak tahu apa penyebabnya. Mereka khawatir. Farel dan kedua Orang Tuanya memutuskan agar Farel dipriksakan ke Dokter. Keesokan harinya Farel izin tidak masuk sekolah. Ia datang ke rumah sakit Mulia. Farel bersaman ayah dan ibunya berangkat lebih awal agar tidak terlalu lama antre. Dan mereka pun mendapat giliran pertama, karena mereka datang paling awal. Dokter memeriksa Farel. Dokter mengatakan bahwa Farel mengalami usus buntu. Farel harus menjalani oprasi usus buntu dalam waktu dekat. Tak ada pilihan lain. Melalui perundingan, hari oprasi telah ditentukan. Itu berteparan dengan libur akhir semester. Berarti Farel tidak bisa mengikuti tournament sepakbola antar club di daerah. Padahal Farel sudah berlatih keras. Sayang sekali, mungkin Farel harus istirahat untuk beberapa bulan. Raport Farel akan diambil oleh ayahnya, sementara Ibu Farel akan menemani Farel saat menginap dirumah sakit. Memang, beberapa hari sebelum oprasi, dia diwajibkan oleh dokter untuk menginap di rumah sakit. Tujuannya agar kondisi Farel tetap bisa dikontrol oleh para dokter. Waktu terus berjalan. Beberapa hari lagi Farel akan segera dioprasi. Sebelumnya Farel harus menjalani tes kesehatan. Tes kesehatan tesebut cukup rumit. Dia harus berulang kali disuntik, dan itu rasanya tidak enak sekali. Hasil tesnya menunjukkan bahwa kondisi Farel sedang baik. Lalu Farel mulai hari menginap pertamanya. Walaupun tidak nyaman Farel harus tetap menginap di bengsal sempit dan pengap itu. Hari – hari tidak menyenangkan dilewati Farel. Sesekali Kakek, Nenek, Paman, dan yang lainya datang menjungunya. Rasa takut akan oprasi sedikit hilang. Mereka berkumpul bersama diruangan yang sempit dan pengap. Farel dan yang lainnya berbincang – bincang cukup lama. Namun perbincangan mereka terhenti. Seperti biasa, Farel buang gas lagi. Semua langsung keluar dari ruangan. Tinggal Farel sendirian didalam bersama bau tidak enak itu. Setelah beberapa saat, bau gas buangan Farel hilang. Semuanya masuk kembali ke ruangan dan kembali berbincang – bincang. Hari oprasi datang. Farel merasa takut dan mencoba melawannya. Tapi itu sulit. Kedua orang tua Farel hanya mangantar Farel sampai depan pintu ruang oprasi. Farel harus masuk sendiri. Farel tak tahu harus berbuat apa. Farel hanya dapat berharap kepada para dokter agar oprasi dapat berjalan sukses. Farel juga terus berdo’a kepada Tuhan. Memang hanya itu-yang mungkin dia tau dan yang bisa Farel lakukan. Secara tidak langsung Farel mulai berjuang-saat obat bius membuatnya tertidur. Farel berusaha keras untuk hidup di meja oprasi. Pada waktu yang bersamaan pula, teman – temannya sedang deg – degan menerima raport kenaikan kelas. Sebanarnya ayah Farel harus mengambilkan raportnya. Tapi Ayah Farel lebih memilih bersama ibunya untuk menemani Farel dari luar ruang oprasi. (Setelah oprasi, yang memakan waktu cukup lama). Oprasi Farel berhasil. Tapi dia tidak langsung terbangun. Setelah beberapa saat Farel terbangun, tapi kaki Farel belum bisa digerakkan. Mungkin karena masih terpengaruh obat bius. Farel dibawa kembali ke bangsal penginapannya. Kakek, nenek, paman, dan yang lainya menjenguk Farel lagi. Dia menjadi lebih tenang. Tapi Masa sulit Farel belum selesai. Farel belum dikatakan normal bila dia belum buang gas. Orang yang baru selesai oprasi boleh makan dan minum lewat mulut jika belum mengeluarkan gas. Jadi Farel hanya mendapat makanan dari infus. Dia baru tahu bahwa buang gas ada manfaatnya juga. Sudah lama sekali, tapi Farel belum kentut juga. Bibirnya sudah semakin kering. Semua menantikan Farel buang gas. “bau gas turi!” kata ayah Farel penuh semangant. “Farel, kamu sudah buang gas?” Ibu tanya Farel. “bukan aku.” Jawab Farel lemas “Tapi aku..” sahut paman. Ini pertama kalinya banyak orang menantikan Farel buang gas. Sekarang Farel baru tahu bahwa ‘tak ada sesuatu yang tak berguna’ sekecil apapun itu. Suatu keburukan memiliki kebaikan disisi yang lain. Semua masih menunggu. Lama sikali. Tak seperti orang yang selesai oprasi pada umumnya. Semuanya menjadi cemas. Namun akhirnya, ketika ayah hendak bertanya pada dokter, Farel tiba – tiba buang gas. Semuanya lega, mendengar dan mencium gas bau yang Farel keluarkan itu. Dilanjutkan dengan gas kedua, gas ketiga dan seterusnya. Kondisi Farel mulai membaik. Dia sudah boleh makan dan minum lewat mulut. Farel masih terus mendapat obat dari dokter. Tanpa terasa hari demi hari telah berlalu. Kesehatan Farel terus menunjukkan perubahan kearah positif. Dia pun diizinkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan. Sedikit demi sedikit dia mulai dapat melakukan aktivitas sehari hari. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk mambiayai oprasi Farel itu. Sedikit pelajaran yang dapat ia peroleh adalah bahwa ‘kesehata mahal harganya’. Namun setelah itu tidak ada toleransi lagi bagi Farel untuk buang gas sembarangan. Farel harus kembali menyendiri lagi, agar dia bisa buang gas dengan bebas, tanpa menggangu orang sekitarnya. Hanya gitar Farel yang masih setia menemaninya.
* * *
Beberapa hal telah berubah. Setelah oprasi itu, Farel tidak dapat bermain bola dengan optimal. Luka pada oprasinya membuat Farel merasa tidak nyaman bila sedang melakukan gerakan –menggunakan kaki –dalam bermain bola. Dulu, Farel bercita – citanya menjadi pemain bola yang handal seperti Firman Pamungkas –salah satu pamain terbaik di kabupaten. Tapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Farel harus mencari dan mengejar cita – citanya yang baru. Keinginan Farel telah berubah. Dia ingin menjadi musisi dengan gitarnya. Itu yang sedang Farel tekuni saat ini, sebagai ganti karena dia tidak bisa menjadi pemain bola handal. “ bagaimanapun caranya, kita harus mempunyai mimpi dan meraihnya. Karena tanpa mimpi kita seperti layang – layang yang putus talinya. Tak tau kemana akan jatuh, dan tak tau bagaimana nasib setelah jatuh” kata Farel kepada Danu sahabatnya. Salah Satu hal yang masih sama dan belum berubah sampai sekarang adalah ‘Farel dan kebiasaannya (buang gas)’. Oleh : A. H. Sudibya
Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan Komentar
